Sejarah Singkat SMP Nurul Jadid
Diposting tanggal: 11 November 2013


SMP Nurul Jadid  adalah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul  Jadid Paiton. Pondok Pesantren ini didirikan oleh almarhum KH.Zaini Mun’im pada tanggal 1 Januari 1950.KH.Zaini Mun’im adalah tokoh ulama  pejuang di Madura.  Pada agresi  II Madura  juga  menjadi sasaran penyerangan kolonial  Belanda, para tokoh-tokoh sentral perjuangan  dicari dan di tangkap,, tidak lepas pula  KH.Zaini Mun’im yang pada waktu itu menjadi pimpinan barisan Sabilillah  di Pamekasan juga jadi incaran, bahkan rumah  dan pondok beliau di desa Galis Pamekasan di bakar habis oleh Belanda .

Dalam mendesain Pesantren ini KH. Zaini Mun’im  selalu melihat “gelagat”perkembangan zaman dan berwawasan jauh ke depan. Ini di perlukan karena beliau sangat berharap agar alumni PP.Nurul Jadid  dapat mengabdi dan diterima masyarakat di semua sektor dan berjalan seiring dengan kebutuhan zaman. Cita-cita luhur  tersebut tersirat dalam tujuan didirikannya PP.Nurul Jadid, yaitu untuk “ Membentuk mukmin, muslim yang bertaqwa, berakhlakul karimah, kreatif, semangat, aktif, cakap dan berilmu cukup berguna bagi agama,bangsa dan negara”.

Berdirinya SMP Nurul Jadid, juga tidak terlepas dari  kerangka berfikir beliau yang jauh kedepan.Ini bermula dari rasa prihatin KH.Zaini Mun’im yang tinggi terhadap generasi umat Islam. Ceritanya, saat menjenguk putranya yang belajar di Pesaantren Darul Ulum Jombang, sesampainya di kota beliau sangat perihatin terhadap pelajar umum (SMP /SMU) dengan pakaian olah raga serta pergaulan putra putri yang sudah mengabaikan nilai-nilai  akhlakul karimah. Dari peristiwa ini beliau berfikir dan berdiskusi  panjang dengan pengurus Pesantren untuk  menyelamatkan putra putri umat Islam dengan mendirikan pendidikan umum di Pesantren, tentu pada waktu itu Pesantren -pesantren masih sangat asing menerima kehadiran pendidikan umum yang ditengarai oleh sebagaian  umat islam sebagai “warisan” kolonial Belanda. Tetapi KH.Zaini Mun’im mangambil keputusan tegas untuk bertekad mendirikan lembaga umum, karena beliau juga

berfikir bahwa nantinya lembaga umum kehadirannya sangat di butuhkan oleh umat islam. Dari hasil beberapa pertimbangan mendasar dalam menyiapkan kader santri multifungsi, maka pada tahun 1970 berdirilah SMP Nurul Jadid, pada awal berdirinya yang mendaftar hanya 29 siswa baru yang menempati ruang sangat sederhana. Kepala sekolah yang pertama dipercayakan kepada santri senior yaitu Bapak Suari Rozak, BA. Dari tahun 1970 s.d. 1973. Pada tahun 1973 terjadi pergantian Kepala Sekolah pimpinan SMP Nurul Jadid dilimpahkan kepada Bapak Mursyid Mahfud, BA. Pada masa ini (1973-1975)berdasarkan penetapan Kanwil Dikbud Propinsi Jawa Timur Kabin PMUP No.706/KP/73.SMP NJ dinyatakan telah masuk dalam lingkungan  pembinan SMPN Kraksaan, termasuk dalam pelaksanaan ujian Negara. Jumlah murid pada tahun  1973 mencapai 83 siswa, sehingga pada tahun 1975 jumlah murid bertambah 104 siswa.           

Pada periode Mursyid Mahfud, BA.  ini, piagam operasional pendiran SMP NJ turun dari Depdiknas Jatim tanggal 30 Juni 1976 No.563/22/MPU/7010/76.Kemudian pada tahun 1976 kendali sekolah diserahkan pada Bapak Abd.Halim Zairozi, BA. Pada masa kepemimpinannya hingga tahun 1978. Pada tahun 1978 kembali terjadi pergantian Kepala  Sekolah, pengurus Yayasan masih menunjuk seputar santri senior PP.Nurul Jadid yaitu, M Juwaini Tuyo, .Menggantikan Abd.Halim Zairozi, BA.. Dalam masa ini Depdikbud menyelenggarakan akreditasi (penilaian sekolah) untuk yang pertama.. Karena itu dari tahun 1980-1985 dilakukan upaya peningkatan-peningkatan fasilitas sebagai prasyarat akreditasi. Pada tahun 1981 SMPNJ meperoleh piagam status terdaftar tertanggal 29 Desember 1981. Pada akreditasi  kedua SMPNJ tetap berupaya meningkatkan status dengan melakukan beberapa perbaikan-perbaikan , sehingga pada tahun 1986 status sekolah dapat dinaikan lagi dari terdaftar menjadi status diakui dengan Nomor piagam :667/1.04.7.4/E8.85/SK/tanggal 25 Pebruari 1986.

Kepemimpinan M. Juwaini Tuyo,BA berlangsung hingga 1990.Kedudukan Kepala Sekolah digantikan  oleh  Bapak M. Mursyidi  Fahmi, BA.  yang  sebelumnya menjabat  wakil Kepala Sekolah  berdasarkan SK.Yayasan Nurul  Jadid  No.:104/YNJ/SK/A.1/I 1990  tanggal 1 Juli 1990

Pada masa M. Mursyidi  Fahmi , BA . dilakukan pembenahan - pembenahan baik fasilitas , kwalitas pendidikan maupun mikanisme organisasi .Ini dilakukan untuk menyiapkan akreditasi tahun 1991 dan pada masa ini dari hasil kerja keras para pengurus sekolah , maka status sekolah dapat dinaikkan kembali pada status paling tinggi  yakni dari status diakui menjadi disamakan dengan Nomor Piagam: 689/I.04/M/91/SK tanggal 6 Januari 1992 .Dari fakta -  fakta  perjalanan  SMP NJ yang telah  di kemukakan menunjukkan bahwa pada setiap mengajukan akreditasi Depdiknas, SMP NJ terus merangkak naik, dari terdaftar (1981) diakui (1986) dan disamakan (1982). Ini membuktikan peningkatan fasilitas dan kwalitas pendidikan Nurul Jadid oleh Depdiknas dinilai stabil.

Pada tahun 1996 Depdiknas kembali mengadakan akreditasi peninjauan ulang, dan pada akreditasi ini SMP Nurul Jadid dapat mempertahankan status Disamakan dengan nomor piagam : 625/I.04/I/96/SK tanggal 29 Januari 1996 hingga tahun 2001/2002.dikemudian hari, yakni pada tahun 2005 Depdiknas kembali mengadakan akreditasi pada SMP Nurul Jadid, dan pada saat itu pula SMP Nurul Jadid mendapatkan berhasil mempertahankan dengan perdikat TERAKREDITASI – A. saat ini, dengan bertambahnya fasilitas yang memadai, pembenahan diberbagai bidang sarana prasarana serta prestasi siswa di beberapa even lomba kini ditahun 2008 dengan jumlah siswa 823 dengan menempati ruang belajar 21 kelas yang dibina oleh 49 guru dan 10 tenaga Tata Usaha, SMP Nurul Jadid terpilih menjadi sekolah rintisan standart nasional ( S S N ).       

Kini apa yang menjadi cita – cita almarhum KH. Zaini Mun’im pada awal berdirinya SMP Nurul jadid dirasakan akhir – akhir ini bahwa kehadiran lembaga umum dipesantren benar – benar dibutuhkan, sehingga banyak alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid (lulusan SMP dan  SMU) banyak dibutuhkan masyarakat di berbagai sektor pengabdiaan dan mampu mengimbangi lulusan luar pesantren.