RACUN KU RINDU

 

Panas dan gatal, tak akan menghalangi orang-orang ini menyiksa diri. Beratus-ratus kali atau bahkan ribuan kali bolak-balik menuju saluran air selebar kira-kira setengah meter. Menimba air dengan timba berbentuk aneh, berat, di jinjing, tangan mereka bekerja sama dengan tali yang menggantung pada kanan-kiri sepotong kayu yang menyilang di pundak. Air itu bercampur keringat, kayu itu semakin menyiksa pundak, sampai bengkak. Satu, dua, tiga, …seratus, seribu, ya di ribuan bibit uang, air itu berlabuh. Ribuan bibit uang itu harus di siram. Kering satu, kucuran keringat tiap hari jadi taruhan, bengkak di pundak jadi bisa jadi karatan. Judi dimulai.

Menyiksa diri demi daun uang, berbulan-bulan. Mengairi satu per satu bibit-bibit uang itu bukan perkara mudah, sangat menyiksa. Ini belum tentang proses rumit dan melelahkan sebelum bibit uang itu ditanam. Membajak, menggali saluran air, membuat tempat ditanamnya bibit uang, sama menyiksa. Proses perawatan bibit-bibit uang itu hingga patut dipanen, juga sungguh sangat menyiksa. Belum lagi perkara rumit maha dramatis dan dilematis, pinjam uang untuk menanam uang-uang itu. Bagiku, ini judi yang tak akan mereka menangkan. Mereka, petani uang, akan tetap menyiksa diri demi satu mimpi, kemenangan atas perjudian akbar tahunan. Ya, ketika panen tiba, nanti, mereka akan berbisik “ini dia daun uang, daun emas”. Bagiku itu hanya kertas dimana tuhan menulis garis hidup mereka: susah.

Kuhisap dalam-dalam rokokku, asap pekat racun itu mengisi seluruh paru-paruku. Sinar matahari senja hari berpadu indah dengan asap-asap racun yang keluar dari mulut dan hidungku, merdeka aku dibuatnya. Kupandangi petani-petani itu, di sawah, tempat bibit uang itu dibesarkan, mereka sibuk sekali. Sibuk menyulam kesusahan mereka dengan penyiksaan yang mereka buat sendiri, dengan terpaksa. Wajah mereka suram, perpaduan antara harapan dan kebimbangan, dan juga keterpaksaan. Percayalah, aku jarang melihat senyum di bibir mereka, apalagi tawa. Mereka hanya tersenyum ketika panen tiba, nanti. Hatiku, jangan ditanya, getir bercampur asap pekat rokokku. Mereka menanam uang dan aku yang membakarnya, dan kepul asap inilah yang menghidupi mereka. Uang dibakar demi uang.

Setiap kuhisap rokokku, akan selalu terlukis oleh asap-asap racun raut muka penuh derita petani-petani uang itu, asap yang mereka harap akan selalu ada. Jika asap tidak mengepul, tamat mereka. Menghisap sendiri asap-asap ini hanya akan membuat paru-paru mereka meledak. Kawan, ini cerita tentang penderitaan, hanya itu.

Pagi-pagi, disuatu hari yang muram. Aku mengintip lewat kaca spion motorku. Rokok ditanganku terasa panas, telingaku menangkap banyak suara, juga panas.

“Bu…, bagaimana proses pencairan uang saya…?”

“Pak…, berapa yang bisa saya pinjam …?”

“Mbak…, uangnya sudah bisa diambil …?”

“Mas…, apa saya bisa pinjam lagi…?”

Mataku nanar mendengar itu, jantungku bergemuruh. Bukan kasihan yang tersemat di dadaku, tapi amarah yang menjarah solusi-solusi yang kadang muncul di kepala. Kalimat itu, rintihan meminta para petani uang, akan selalu bergaung bersahut-sahutan tiap hari di bank-bank yang menyediakan “jasa” peminjaman uang demi tertanam dan terawatntya bibit uang. Tentu saja, mereka harus mengembalikan dengan bunga yang lumayan membuat mereka kehilangan harapan saat panen tiba, nanti. Bahkan kelak untuk panen, mereka perlu modal! Ah, pagi itu mentari langsung pulang. Ku tahu, bahkan mentari pun akan berduka melihat kepahitan pagi itu, dan malam memerdekakan duka mentari.

Uang dipinjam untuk menanam uang, uang dipanen untuk mengembalikan uang. Panen tak lebih dari operasi pengurangan sederhana matematika. P (panen) – P (pinjaman) = (+) atau (-), nol tak pernah ada. Kalau lebih (+), uang menjadi dewa, kalau kurang (-), uang menjadi iblis, atau kadang-kadang malaikat, pencabut nyawa. Lebih? Ya… sedikit, sedikit yang membuat petani uang banyak tersenyum. Tapi mereka selalu  lupa. Uang-uang lebih itu, tidak cukup membayar lelah dan keringat mereka, atau bahkan membuat ukuran pundak mereka kembali normal. Akan sangat tepat jika rumus yang gunakan adalah P (panen) – {P (pinjaman) + P (penderitaan)} = ? Tak usah kau hitung kawan, biar kupikir sendiri sendiri, P – (P+P) = P – 2P = -P. Simbol “P” yang sama bagiku selalu memiliki makna sama pula: penderitaan. Dan –P artinya penderitaan mereka masih kurang, atau keseluruhan usaha mereka hanya menyisakan penderitaan. Dan tak akan berkurang. Kawan, kalau kau ahli matematika atau akuntansi, tak usah kau risaukan perhitunganku atau kesimpulanku, lebih baik cari saja, apa akar penderitaan petani-petani uang itu. √p = ?

Saudaraku, guru-guruku, tetanggaku, teman-temanku, adalah sebagian dari para petani uang. Aku menghormati mereka atas kesetiaannya menyiksa diri, dengan terpaksa. Ya! Terpaksa mereka berjudi. Bibit-bibit uang harus mereka tanam, satu periode musim dalam setahun menjanjikan daun-daun uang itu akan melambai-lambai. Jika mereka menanam daun lain, teramat sedikit keuntungan yang akan mereka dapat, walau resiko penghianatan daun lain tak sehebat rayuan daun uang.

*******

Panen tiba. Kesibukan maha dahsyat akan bergulir. Ini ritual kawan, ritual penghadir senyum atau mungkin tawa, sakral dan menentukan. “Panen tiba, petani desa, memetik harapan… Bocah-bocah, menari lincah, di pematang sawah…”. Otakku selalu bernyanyi memandangi aktivitas petani uang sepanjang musim panen. Iwan fals memang terlalu cerdas mencipta lagu tentang mereka, tapi sepengetahuanku kelanjutan lagu ini: sedih.

Panen adalah saat daun-daun uang mulai dipetik, dilipat-lipat, di simpan selama beberapa hari, kemudian dirajang. Daun uang itu akan keriting. Proses menyakitkan berikutnya adalah menjemur daun uang yang telah keriting itu di terik matahari, pada sebilah papan dari anyaman bambu. Matahari naik tahta menjadi dewa pada masa ini. Taukah kau kawan apa jadinya bila matahari berhianat pada mereka? Musnah sudah seluruh usaha penyikasaan diri berbulan-bulan. Uang hanya akan jadi mimpi, buruk. Hujan yang digariskan Tuhan sebagai rejeki, adalah iblis paling seram pada masa-masa ini. Kedatangannya sangat dibenci. Kemenyan, sesaji, serta mantra-mantra adalah penyelamat mereka, ketiganya adalah dewa dadakan. Sekarang takdir tertukar.

Judi akan selesai. Pemenang akan ditentukan, yang kalah tak perlu dicari, siapa yang menjerit, dia kalah.

Lantas akan diapakan daun-daun uang keriting itu? ini lah saat yang paling ditunggu-tunggu, daun-daun uang keriting itu akan dijual. Uang di jual untuk mendapatkan uang. Sekarang yang menjadi dewa adalah pasar, pasar akan menjadi sandaran harapan terakhir. Kawan, walau petani uang adalah direktur sekaligus kuli atas usaha membesarkan pohon uang, mereka tak berhak menentukan harga, sedikitpun. Pasar yang berhak. Jangan kau bayangkan pasar adalah tempat puluhan atau ratusan penjual dan pembeli tawar-menawar harga, bukan kawan. Pasar yang kumaksud adalah beberapa perusahaan yang berkepentingan atas daun-daun uang yang telah keriting.

Harga yang ditentukan pasar atas daun-daun uang yang telah keriting kadang-kadang membikin keriting air mata petani-petani uang. Ya, bila harga tinggi, petani-petani uang benar-benar membesarkan bibit-bibit uang, mereka menang. Mereka akan menikmati hasilnya, barang-barang baru di rumah mereka adalah hasil judi tahunan itu, dan tentu sumber biaya sekolah anak-anak mereka. Tapi, jika harga rendah, barulah mereka sadar, yang mereka tanam adalah bibit-bibit racun yang harus dimakan sendiri, mereka kalah. Dan hilangnya barang-barang di rumah serta putus sekolah anak-anak mereka adalah taruhan yang harus mereka bayar atas kekalahan itu.

Tapi kawan, taukah kau? Ada diantara petani-petani uang itu yang telah kalah sebelum judi selesai. Beberapa diantara telah didustai bibit uang itu, bibit-bibit itu tiba-tiba tidak pantas menjadi taruhan, sebelum judi selesai. Judi selalu merugikan. Lantas petani uang yang mana yang menang? Aku akan tertawa keras kawan! Dan hatiku menjerit, keras pula. Lihatlah kembali rumus-rumus tadi kawan. P – 2P = - P. Petani-petani itu tak pernah menang.

Tapi, tak mungkin tak ada yang menang, ini judi. Ada kalah ada menang. Taukah kau kawan? Seberapa murahpun daun-daun uang itu, cukainya kelak tetap tinggi, karena asapnya juga mahal. Dan petani-petani itulah kelak juga yang harus membayar mahal untuk asap-asap itu, menikmatinya dengan cara yang lain. Kau tahu siapa yang menang. Sekali lagi, bukan petani-petani itu.

Kawan, jika kau ahli ekonomi atau pernah menjadi tukang judi, tolong jelaskan padaku, siapa produsen dan konsumen daun uang itu, kemudian siapa yang mendapat laba. Atau katakan padaku siapa bandar judinya. Bila kau ahli pertanian, tolong jangan pernah membuat benih-benih uang yang lebih merayu, atau teknik bertanam yang lebih menjanjikan, jangan kawan, kau tidak berjasa pada para petani itu, itu bumerang. Dan bila kau guru, katakan pada murid-muridmu, nikotin adalah racun.

“Kawan, aku tak kuasa atas apa yang kulihat atas dirimu” Ucapku lirih, sambil menatap wajah muram kawanku. “Aku tak akan lagi ikut judi tahunan ini, aku menanam racun, aku kalah…” Pernyataan peghianatan atas perjudian maha akbar itu disertai senyum. “Pupuk mahal, pestisida mahal, aku minta bantuanmu…, hasil panen tak cukup mengganti uang pinjaman, tolonglah…” Ah! Bibit uang itu tak hanya menghianatinya, tapi juga aku, aku tak tau apa-apa! Hatiku berontak, Ku ambil segenggam daun uang yang telah keriting, kulinting pada sebuah kertas tipis, kubakar, kuhisap, panas, asap kemerdekaan. Hatiku bergumam “aku rindu, racun ini membuatmu tersenyum”.

Paiton: dari surinta untuk yadri dan syukur.

cerpen/ tulisan:

Surinta Harko miyangga S.Si, S.Pd

Guru Fisika SMP Nurul Jadid Paiton-Probolinggo.

Tinggal di        : senyumcahaya@gmail.com

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar